“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali-Imran : 200)

Kehidupan ini penuh dengan problema, beragam ujian dan cobaan senantiasa menjadi bagian dari kehidupan. Sejak zaman nabi Adam as sampai sekarang pun, manusia tetap akan menjalani berbagai ujian dalam hidupnya, tergantung kemampuan yang ada pada diri mereka. Manusia perlu kesabaran untuk menghadapi kehidupan ini sebab dengannya seseorang mampu mengharungi hidup dalam kerangka berfikir yang lebih baik.

Sabar artinya tahan menghadapi cobaan (Depdikbud, 1994). Sabar adalah menahan dan mencegah diri dari kesedihan yang berlebihan dan kemarahan (Jamal, 2003). Maksudnya adalah bagaimana kita menyikapi cobaan yang menimpa dengan adab yang baik dan ridha terhadap ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala. Pada surat Ali-Imran ayat 200 disebutkan “…bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu..” Dalam kalimat tersebut Allah memerintahkan kita untuk bersabar kemudian selanjutnya terdapat penguatan untuk lebih bersabar lagi, artinya kesabaran kita bukanlah sekedar kesabaran, melainkan kesabaran yang tebal dan sebenar-benarnya sabar. Kesabaran yang berlapis-lapis.

Sabar adalah sesuatu yang indah, mengapa? Karena dengannya kita dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala sekaligus Allah memberikan kita pahala tanpa perhitungan. Allah pun selalu bersama orang-orang yang bersabar secara khusus untuk menjaga dan menolong mereka. Allah berfirman :

“….Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali-Imran : 146)
“…. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar : 10)
“….Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 249)

Terkadang kita sangat sulit untuk bersabar, benar bukan? Walaupun sering terucap dari lisan ini untuk berkata sabar atau mengingatkan orang lain untuk bersabar, namun ketika berbagai cobaan menimpa kita, terkadang kita juga terlarut dalam kesedihan yang mendalam.

Ketahuilah bahwa sabar itu ada tiga macam (Jamal, 2003) :

  1. Sabar dalam taat kepada Allah, maksudnya senantiasa berbuat taat dan rutin memelihara ibadah.
  2. Sabar tidak melakukan maksiat kepada Allah, yaitu konsisten melawan hawa nafsu untuk mencegahnya dari perbuatan maksiat
  3. Sabar atas cobaan Allah, yakni bersabar atas segala musibah dan fitnah yang menimpa.

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk bersabar dengan baik, memaafkan dengan baik, dan menjauhi orang dengan cara yang baik. Yang dimaksud dengan sabar yang baik adalah sabar yang tidak disertai keluhan. Memaafkan dengan baik adalah memaafkan tanpa mencela, tanpa menyesalkan, dan tanpa kekerasan. Sedangkan menjauhi orang dengan cara yang baik yaitu menjauhi seseorang tanpa menyakiti orang tersebut (Jamal, 2003).

Manusia seringkali berkeluh kesah ketika diuji Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun mengeluh kepada Allah, hal ini tidak menafikkan makna sabar itu, justru yang tidak diperbolehkan itu adalah berkeluh kesah kepada makhluk karena seakan-akan ia mengeluhkan Allah kepada makhlukNya. Mengeluh karena kesakitan hingga meneteskan air mata pun tidak menafikkan makna sabar, karena hal ini adalah fitrah manusia. Hanya ketika keluhan itu disertai dengan amarah atau sedih yang berlebihan, maka hal itu menjadi tanda ketidakridhaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Lantas bagaimana kita harus bersabar? Mari kita telusuri sejarah orang yang kesabarannya begitu luas dan tebal, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam.


Ketika perang Khandaq, kota Madinah dikepung musuh dalam jangka waktu yang cukup lama dan melelahkan. Membuat orang-orang islam tidak bisa tidur sekejab pun dan tidak pula beristirahat. Pihak musuh selalu melancarkan serangan lewat pos-pos kaum muslimin yang lemah. Mereka terus bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Persis seperti suasana yang difirmankan Allah di dalam al-quran :

“Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (QS. Al-Ahzab : 10-11)

Dalam kondisi seperti ini, tiba-tiba datang kabar yang menggelegar tentang Yahudi Quraidhah yang melanggar janji dan memilih mengangkat senjata sehingga seluruh orang islam dihadapkan pada gambaran perang yang harus dihadapinya mati-matian, mereka akan dibabat habis, dan wanita-wanitanya akan ditawan. Lalu kesabaran macam apakah yang dibutuhkan seorang pemimpin dalam menghadapi situasi-situasi yang seakan-akan merobek-robek nadi ini? Rasul melepas bajunya dan menghujamkan wajah dalam sujud yang khusyu’. Setelah dilihatnya keadaan orang-orang islam semakin kritis, beliau kobarkan semangat jihad, beliau tanamkan harapan kemenangan dengan sabdanya “Berilah kabar gembira dengan pertolongan dan kemenangan Allah”
Kondisi dan situasi kritis itu sama sekali tidak mempengaruhi ketegaran seorang pemimpin agung. Justru hal itu merupakan ekses kesabaran yang menambah kesabaran sebelumnya (Hawwa, 2002)

Apakah kita sabar? Sering pula kita merasa diri ini sudah sabar, namun ketika kita tanya hati kita masing-masing, ternyata kesabaran itu hanya setebal kulit ari saja sebab beberapa waktu kemudian kita kembali terlarut dalam ketidakridhaan atas apa yang telah terjadi. Sulit memang bersabar itu, namun kita harus yakin bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang sabar. Adakah yang lebih baik lagi selain kebersamaan kita dengan Allah subhanahu wa ta’ala?

Maraji’ :

  • Hawwa, Sa’id. 2002. Ar-Rasul Muhammad Saw. Pustaka Mantiq. Solo
  • Jamal, Syaikh Amin Muhammad. 2003. Sejenak Merenungi Diri. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta
  • Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta.
  • Alquran dan terjemahannya.

NB : Semoga kita dilingkupi oleh kesabaran yang berlapis-lapis dalam menghadapi berbagai cobaan dunia, kesabaran yang baik seperti layaknya yang dicontohkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam kita. Amin. 🙂

Created by : hanan2jahid. 190706. Bersabarlah…..:)

Advertisements