“Sesungguhnya di surga ada tingkatan yang tidak dapat dicapai oleh seorang hamba dengan amalnya, apa pun amalnya. Allah telah menyediakan kedudukan tertentu di surga bagi hamba-hambaNya yang beriman bukan karena amal mereka melainkan karena ujian dan cobaan yang menerpa” (Dr. Abdullah Azzam)

Hidup ini hanyalah sementara, penuh gelombang ujian dan cobaan yang hakikatnya adalah untuk menguji keimanan umat manusia kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sudah menjadi sunnatullah sejak manusia pertama diciptakan, Allah memberikan ujianNya dalam bermacam bentuk. Dengan ujian tersebut Allah akan melihat siapa saja yang benar-benar beriman dan siapa saja yang berdusta.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”
(QS. Al-‘Ankabut : 2-3)

Ujian pun merupakan bentuk cinta Allah kepada hamba-hambaNya. Adakah makhluk selain Allah yang mampu membalikkan gunung dan lautan hingga manusia bertebaran tak tentu arah? Atau adakah senjata tercanggih sekalipun yang dapat mencegah meletusnya gunung merapi bahkan mencegah gelombang tsunami hingga akhirnya ratusan ribu nyawa telah terbang dari jasadnya? Tak ada yang dapat melakukan itu semua kecuali dengan izin Allah. Cukup dengan kata “Kun fa yakun”, jadilah maka terjadilah ia. Secanggih apapun senjata atau peralatan manusia untuk mencegahnya tetap saja kuasa Allah berada di atas segalanya. Bahkan sebaliknya, secanggih apapun senjata manusia untuk menghancurkan bumi ini, ketika Allah berkehendak itu semua tidak terjadi, maka tak mungkin ia terjadi.

Ujian Allah pun terwujud dalam berbagai bentuk. Kesenangan maupun kesedihan. Semua hakikatnya adalah ujian. Harta, anak, istri, kelaparan, bahkan ketakutan, semua adalah ujian dari Allah. Apakah manusia dengan rizkinya tetap mengingat Allah atau bahkan ketika dilanda musibah masihkah ia mengingat Allah?

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah : 155)

“ Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (QS. Ali ‘Imran : 14)

Lalu apa yang harus kita lakukan ketika Allah memberikan ujianNya kepada kita? Ketika musibah dengan beruntun menerpa manusia. Ketika anak kehilangan bapaknya, atau ketika keluarga kehilangan rumahnya. Allah dengan kasih sayangNya menjelaskan di dalam surat cintaNya secara berulang-ulang.

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah : 153)

“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An-Nahl : 96)

”Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik” (QS. Al-Ma´aarij : 5)

Ya, bersabar. Bersabarlah dengan sepenuhnya sabar. Ingatkah saudara seorang sahabat yang bernama Bilal bin Rabah di saat Umayyah bin Khalaf dan algojo-algojonya menyiksa beliau di atas pasir gurun yang panas dan mereka meletakkan batu besar di atas dadanya? Namun dengan kesabaran dan keteguhan imannya, hanya kata “ahad” yang keluar dari lisannya.

Atau ingatkah saudara kisah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam beserta para pengikutnya yang dikepung oleh kaum kafir hingga mereka harus menahan lapar berhari-hari? Hanya keteguhan yang mereka pancarkan dari jiwa mereka. Keteguhan iman yang kemudian Allah memberikan berbagai kenikmatan di syurgaNya.

Bagi yang tertimpa musibah maupun yang tidak tertimpa musibah semua mendapatkan ujian keimanan. Di saat berbagai musibah melanda, di sanalah letak ujian keimanan kita. Bagi yang tertimpa musibah, Allah ingin menguji kita apakah kita tetap tegar dalam keimanan kita, apakah kita tetap sabar dan ikhlas dengan kehilangan anak istri kita. Atau bahkan kita akhirnya mengadili Allah dan menjadi ingkar kepadaNya?

Lalu bagi yang tidak tertimpa musibah, Allah ingin menguji kita apakah kita ikhlas membantu saudara-saudara yang tertimpa musibah. Allah ingin menguji ukhuwah kita pada mereka. Allah juga ingin menguji apakah kita bersyukur atau tidak karena masih diberi kesehatan dan kemudahan? Allah pun ingin menguji penglihatan kita akan kekuasaan Allah untuk diambil pelajaran dari semuanya. Ingatkah kita atau tidak akan kejadian hari akhir nanti? Akankah kita bertaubat dari segala kesalahan dan memperbaiki semuanya untuk mengumpulkan bekal akhirat nanti?

Semua diuji oleh Allah. Di sanalah letak ujian keimanan itu bagi orang-orang yang berfikir. Ya, begitulah hakikat ujian. Saling mengisi dan menerima. Saling menolong dan menguatkan. Saling mengingatkan dalam keimanan. Sungguh, di syurga sana Allah telah menyiapkan tempat terbaik bagi orang-orang yang sabar dan tetap teguh dalam keimanan dikala tertimpa ujian. Karena kita semua hanyalah milik Allah, dan suatu saat kita pun akan diambil kembali oleh pemiliknya.

Bersabar itu indah ketika kita benar-benar ikhlas menghadapi semuanya. Bersabar itu bukan berarti tidak berbuat apa-apa, karena Allah memerintahkan kepada manusia untuk selalu berusaha semaksimal mungkin. Bersabar pun tak mengenal kata batas akhir, karena ia akan selalu ada sampai nyawa terenggut dari raga kita.

NB : “Ya Rabb, karuniakan keteguhan iman bagi kami. Hanya Engkaulah penolong kami, hanya Engkaulah tempat kami meminta perlindungan. Ampuni dosa-dosa kami, sucikan hati-hati kami, tabahkan kami dengan sebaik-baik ketabahan. Berilah kami pertolongan dan keridhoanMu”, amin. Teguhlah selalu dalam keimanan betapa pun lautan ujian menimpa kita saudaraku.

hanan2jahid. 310506

Advertisements