“Jika hanya Allah yang kamu tuju, maka kemuliaan akan datang dan mendekat kepadamu, serta segala keutamaan akan menghampirimu. Kemuliaan sifatnya mengikut. Artinya jika kamu menuju Allah, kemuliaan akan mengikutimu. Tapi jika kamu hanya mencari kemuliaan, Allah akan meninggalkanmu. Jika kamu telah menuju Allah lalu tergoda untuk mencari kemuliaan selain bersama Allah, maka Allah dan kemuliaanNya akan pergi meninggalkanmu”
(Ibnul Qayyim Al-jauziah – Al-Fawaid)

Seorang ibu berkata kepada anaknya yang masih berusia 6 tahun, “Nak, ayo shalat, abi sudah menunggu”. Sang anak lalu bertanya kembali, “Umi, untuk apa kita shalat?”. Sang ibu dengan lembut menjawab, “Kalau kita shalat, Allah akan bertambah sayang pada kita. Tapi, kalau nanti Jundi tidak shalat, Allah akan marah. Jundi mau Allah marah?”, sambil tersenyum sang ibu bertanya kepada anaknya yang bernama Jundi. Lalu dengan spontan sang anak berkata kepada ayahnya, “Abi, tungguin Jundi, Jundi mau shalat sama abi, kata umi kalau Jundi shalat, nanti Allah tambah sayang. Tunggu ya bi…” Sang ayah dan ibu hanya tersenyum melihat anaknya tergopoh-gopoh ke kamar kecil, sembari mereka berdoa agar sang anak tumbuh menjadi mukmin yang tangguh.

Saudaraku..
Manusia diciptakan ke dunia ini hakikatnya adalah untuk mengabdi. Mengabdi kepada Sang Pemilik setiap jiwa. Ibarat seorang pelayan kepada sang majikan, maka apapun perintah sang majikan akan ia turuti. Demikian pula yang terjadi pada seluruh makhluk di muka bumi ini, termasuk manusia, yang selayaknya senantiasa menjadi hamba bagi Sang Pencipta. Kisah di atas mengingatkan kita pada sesuatu yang mungkin sering kita lalaikan. Sebuah tujuan, tujuan yang selalu kita jadikan dasar berpijak dalam setiap aktivitas kita. Sang anak, sesaat setelah mendengar penjelasan ibunya, langsung beranjak dari tempat duduknya untuk berwudhu dan bersama ayahnya akan pergi shalat jum’at. Kita semua tahu bahwa seorang anak yang berusia 6 tahun selayaknya belum wajib menunaikan shalat, namun karena sang ibu dan ayah memahami pendidikan anak yang baik, sejak dini mereka tanamkan benih-benih ketaatan dalam diri sang anak. Lalu yang sangat menarik kita lihat adalah reaksi sang anak ketika sang ibu berkata bahwa dengan melakukan shalat, kita akan semakin disayang Allah. Sang anak hanya berfikir satu saja saat itu, bahwa jika ia shalat maka Allah semakin sayang padanya, dan itu sudah cukup membuatnya senang dan sesegera mungkin bergerak untuk melaksanakan shalat. Tanpa ia sadari, ia telah menjadikan Allah sebagai tujuannya. Karena Allah ia shalat, dan karena Allah pula ia menuruti perintah ibunya.

Saudaraku..
Banyak hal di dunia ini yang dengan mudah dapat menjadi tujuan hidup dari setiap detik yang kita lalui. Anak, harta, kemewahan, dan segala perangkat-perangkatnya dengan mudah menggoda setiap sisi jiwa kita untuk berpaling dari tujuan sesungguhnya. Tujuan penciptaan manusia yang sebenarnya. Ketika kita diciptakan hanya untuk mengabdi kepada Allah, maka seketika itu juga sebuah tujuan tertancap di dalam diri kita bahwa Allah adalah tujuanku. Namun di tengah-tengah perjalanan hidup kita, seringkali kita lupa ke mana arah yang kita tuju. Tak jarang kita berada di persimpangan jalan menuju selain Allah. Terkadang pula, kita menjadi seorang yang ujub dan takabbur tanpa kita sadari. Merasa diri ini paling baik di antara semuanya. Merasa bahwa seluruh amal kita adalah amal terbaik dibandingkan orang lain. Bahkan tak jarang pula, setiap detik hidup kita dilalui karena sebuah pujian yang indah. Adakah itu semua tujuan awal kita?

Saudaraku..
Manusia memang tempatnya salah dan khilaf. Maka dari itu setiap diri diperintahkan untuk senantiasa memperbaiki niat dalam segala aktivitas. Setiap detik memperbaharui keikhlasan setiap amal-amalnya. Para salafush shaleh senantiasa memperbaiki keikhlasannya karena Allah di setiap amal mereka. Kita pun demikian seharusnya. Saat takbiratul ihram kita berniat shalat karena Allah dan bukan karena yang lain. Lalu ketika di tengah-tengah rukuk terbersit riya yang mengotori hati kita, maka perbaiki lagi niat itu. Demikian seterusnya setiap detiknya kita perbaiki hingga salam terakhir dan doa yang kita panjatkan. Hidup ini pun demikian adanya. Setiap detik dan setiap kesempatan, selalu kita ingatkan diri kita bahwa hanya Allah tujuan kita, bukan pujian ataupun dunia dan seluruh isinya.

Saudaraku..
Iblis akan senantiasa menggoda kita dari segala arah, depan, belakang, kanan, kiri, atas, bawah, bahkan di saat kita beribadah pun ia akan selalu menggoda kita. Ia akan bekerja keras untuk menjadikan kita sebagai pengikutnya. Dalam sebuah hikmah dari seorang Fudhail bin Iyadh, salah seorang tokoh salafush shaleh dikatakan bahwa “Iblis akan unggul atas manusia bila berhasil memunculkan salah satu dari tiga sifat. Kekaguman (ujub) pada diri sendiri, melebih-lebihkan amal sendiri, dan kelupaan atas dosa-dosa yang dilakukan.” Sifat senang dipuji menjadi salah satu langkah iblis untuk menjatuhkan anak manusia ke lembah yang hina. Masya Allah…

Saudaraku..
Berhati-hatilah dalam setiap langkah hidup kita. Selalulah peka terhadap perubahan kondisi hati kita. Jangan terlalu cepat senang ketika orang lain memuji kita, karena bisa jadi Allah masih menyembunyikan aib diri kita. Dalam sebuah hikmah yang lain dikatakan bahwa andai saja manusia dapat mencium aib diri kita, maka mereka akan merasa sangat terganggu dikarenakan betapa baunya diri kita karena banyaknya aib yang kita miliki. Oleh karena itu selalulah memohon kepada Allah agar Dia selalu menyembunyikan aib kita sembari kita memperbaiki semua kesalahan yang ada. Jika hanya Allah tujuanmu, maka dunia dan seluruh kemuliaan akan mengikutimu, namun jika hanya kemuliaan yang engkau tuju, maka yakinlah Allah akan meninggalkanmu, dan tak ada arti apapun jika Allah meninggalkan kita.

NB : Mari kita luruskan niat kembali dan senantiasa berdoa agar Allah menjaga kelurusan niat kita hanya tertuju padaNya. Allah ghayatuna.

Created by : hanan2jahid. 170506. Ya Rabb, luruskan niat kami

***Ini file tulisan lama saya yang webnya keburu expired, ga sempat diselamatkan masukan-masukan teman-teman. Jadi saya post ulang di sini saja.

Advertisements