Shalih = Benar + Baik + Bermanfaat

Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi. Khalifah yang akan memakmurkan bumi ini dan memberi kemaslahatan kepada seluruh umat. Kehidupan ini pun layaknya seperti batu yang kita genggam di tangan. Suatu saat batu itu akan tergelincir dari tangan, namun jika tangan kita kuat menggenggamnya maka batu itu akan tetap berada di dalam tangan. Kehidupan hendaknya dijalani secara benar, dalam kaca mata yang benar, dalam aturan yang benar, dan dengan keikhlasan yang benar pula. Semua itu terwujud dalam sebuah tindakan nyata atau biasa kita katakan ‘amal. Hanya dengan keshalihan dan kerelaan, maka seseorang dapat menjalani kehidupan ini dengan nikmat. Mampu menerima apa yang diberikan Allah, dan suatu saat pun mampu menerima apa yang akan Allah ambil kembali.

Shalih itu juga harus proporsional. Proporsional antara benar, baik, dan bermanfaat. Benar dan baik, sesuai dengan apa yang disyariatkan Allah subhanahu wa ta’ala dan RasulNya. Bermanfaat, ia mampu memberikan kemaslahatan bagi lingkungannya. Sesuatu yang benar jika tidak baik, maka ia menjadi amal yang tidak shalih.
Sebagai contoh seorang anak yang mencegah ibunya berbuat syirik. Secara spontan sang anak datang melabrak ibunya, menghancurkan sesajen-sesajen, kemudian menampar sang ibu dengan tangannya. Perbuatannya dalam mencegah kemusyrikan benar, tetapi caranya dalam mencegah itu dengan menampar sang ibu adalah salah. Maka ia tidak pantas dikatakan amal shalih.

Contoh lain seorang yang berilmu, ia menuntut ilmu dari sumber yang benar dan cara yang benar pula. Tetapi setelah ia dapatkan ilmu itu, ia hanya simpan untuk dirinya sendiri, hanya dihafal sendiri, dan tidak pernah digunakan untuk apapun. Maka apa yang ia lakukan tidak dapat dikatakan amal shalih, karena ilmunya tidak mampu memberi manfaat kepada orang lain.

Benar, baik dan bermanfaat harus senantiasa bersinergi satu sama lain. Tanpa sinergi, maka suatu amal ibarat penyakit. Tidak memberi manfaat dan kemaslahatan bagi siapapun. Hatta untuk diri sendiri, maka ia akan mengganggu hubungan kita dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan bekal keshalihan dan keikhlasan, maka manusia akan mampu menjalani kehidupan ini dengan benar. Wallahua’lam.

NB : Mari kita perbaiki kembali keshalihan kita. Keshalihan yang proporsional. Menuju keshalihan pribadi dan kolektif. Saudara-saudara mau kan ? 🙂

Created by : hanan2jahid. 240606. Terinspirasi dari sebuah acara di televisi tentang kehidupan orang-orang yang sabar

Advertisements